Oleh: eel ganteng | Desember 10, 2009

pakan udang

Pakan Buatan
Pakan buatan bagi udang dapat diartikan sebagai pakan yang dibuat dalam skala industri dengan komposisi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan udang dan diberikan untuk menyuplai makanan pada tambak dengan tingkat ketersediaan pakan alaminya telah menipis/habis sama sekali. Tingkat penggunaan pakan buatan relatif berbeda berdasarkan skala budidaya udang yang diterapkan, seperti akan diuraikan di bawah ini :
Pada budidaya udang skala tradisional, penggunaan pakan buatan tidak/jarang sekali digunakan pada pola pemberian pakan yang diterapkannya. Penggunaan pakan buatan hanya terbatas pada pakan yang dibuat berdasarkan kemampuan pengelola tambak secara perorangan. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan buatan antara lain : dedak (bekatul), jagung, tepung dan ikan rucah sebagai campuran. Pakan jenis ini biasanya digunakan setelah udang mencapai usia panen dengan estimasi populasi udang yang relatif banyak.
Pada budidaya udang skala semi intensif, penggunaan pakan buatan lebih diarahkan pada upaya antisipasi terjadinya kekurangan pakan alami berdasarkan estimasi populasi udang yang ada pada saat itu. Pemberian pakan buatan yang diterapkan tidak bersifat mutlak dan lebih cenderung insidental.
Pada budidaya udang skala intensif, penggunaan pakan buatan terutama yang berskala industri bersifat mutlak sebagai salah satu syarat pengelolaan budidaya udang. Padat penebaran udang yang relatif tinggi merupakan salah satu dasar pemikiran yang perlu dipertimbangkan. Selain itu penerapan pakan buatan yang benar pada budidaya udang skala intensif dapat membantu dalam estimasi kondisi dan pertumbuhan udang di dalam tambak.
Jika dibandingkan dengan jenis pakan udang lainnya, maka pakan buatan skala industri mempunyai karakteristik ditinjau dari segi ukuran dan komposisi nilai gizi yang dikandungnya. Karakteristik tersebut dibuat dan ditentukan oleh industri pembuatnya berdasarkan sifat dan kebutuhan udang yang ada di dalam tambak.
Ukuran pakan buatan bagi udang merupakan ukuran besar kecilnya butiran-butiran pakan yang sesuai dengan kebutuhan udang pada saat dan kondisi tertentu. Berdasarkan ukurannya, pakan buatan secara garis besar biasanya dapat digolongkan ke dalam jenis :
1. Crumble yaitu butiran pakan yang berupa serbuk/butiran halus dan biasa digunakan pada udang usia tebar (benur).
2. Pellet yaitu pakan buatan yang berupa butiran-butiran kecil sampai butiran kasar dan biasa digunakan pada udang dewasa sampai udang usia panen.

Selain ukuran, ditinjau berdasarkan komposisi kandungan nutrisinya pakan buatan mempunyai formulasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan udang. Nutrisi yang biasanya terdapat dalam pakan buatan antara lain : karbohidrat, protein, lemak, serat dan beberapa zat esensial lain yang dibutuhkan udang. Komposisi nutrisi tersebut dapat berbeda tergantung dari ukuran pakan dan industri pembuatannya. Dalam kondisi tertentu pakan buatan tersebut dikombinasikan dengan zat-zat suplemen (antara lain vitamin) untuk mengatasi kekurangan zat tersebut dan dibutuhkan oleh udang dalam keadaan sangat diperlukan.

Pakan Segar
Di dalam satu siklus budidaya, pada saat tertentu udang dapat mengalami penurunan kondisi dan kualitas yang disebabkan oleh faktor alam (perubahan cuaca, lingkungan) maupun faktor yang berasal dari dalam tubuh udang itu sendiri (proses moulting). Pada kondisi seperti ini gejala yang biasanya muncul adalah penurunan nafsu makan udang atau pada kondisi yang lebih parah udang telah terinfeksi jenis penyakit tertentu.
Terjadinya penurunan nafsu makan bagi udang merupakan indikasi yang perlu dicermati, karena bila tidak segera ditangani dapat menimbulkan masalah yang serius bagi udang. Penurunan nafsu makan tersebut akan membuat organ pencernaan udang dalam keadaan kosong dan selanjutnya dapat mengakibatkan penyusutan hepatopancreas sehingga udang pada kondisi yang lemah dan dapat menyebabkan udang mudah terkena masalah. Salah satu cara yang biasa digunakan untuk menangani penurunan nafsu makan udang adalah dengan melalui pemberian pakan segar yang bersifat insidental
Pakan segar yaitu jenis pakan yang berasal dari hewan/biota perairan yang telah diolah sedemikian rupa dan diberikan dalam kondisi masih segar kepada udang dengan tujuan memperbaiki kualitas dan kondisi udang atau untuk meningkatkan nafsu makan udang yang terindikasi terkena masalah tertentu.
Dasar pemikiran yang melandasi penggunaan pakan segar ini adalah sebagai atraktan bagi udang melalui rangsang penciuman/bau yang sangat menyengat yang dikeluarkan oleh pakan segar sehingga udang tertarik dan mendekati untuk mengkonsumsi pakan tersebut. Diharapkan dengan metode seperti ini nafsu makan udang bisa lebih ditingkatkan dan mampu memperbaiki kualitas udang.
Biota yang sering digunakan sebagai pakan segar dalam budidaya udang adalah dari berbagai jenis ikan. Adapun cara pemberian pakan segar tersebut antara lain dilakukan dengan:
Pemberian secara langsung dengan terlebih dahulu ikan yang menjadi bahan pakan segar di potong-potong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.Ikan bahan pakan segar direbus terlebih dahulu sebelum diberikan kepada udang dengan tujuan menekan sekecil mungkin resiko penularan/terinfeksinya bibit penyakit dari ikan yang digunakan sebagai pakan segar kepada udang.
Dosis pemberian pakan segar yang diterapkan biasanya 1.5 – 2.0 kali dosis pakan buatan dalam kondisi normal dan biasanya dilakukan pada malam hari atau tergantung dari tingkat kebutuhan dan permasalahan yang sedang dihadapi.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan segar ini antara lain:
 Jenis dan tingkat permasalahan yang sedang terjadi, karena pada kasus tertentu pemberian pakan segara akan lebih memperparah kondisi dan kualitas udang di dalam tambak.
 Kondisi perairan tambak dan cuaca. Pemberian pakan segar di dalam perairan tambak akan berpengaruh nyata terhadap produktivitas perairan tambak, sehingga perubahan yang terjadi dapat mempengaruhi kondisi udang.
 Pemberian pakan segar di dalam tambak harus diimbangi dengan sirkuasi air tambak yang memadai sebagai antisipasi terjadinya akumulasi sisa-sisa pakan segar yang tidak terkonsumsi udang dan dapat mengalami pembusukan di dasar tambak.
 Penyeleksian kualitas biota bahan pakan segar dari kemungkinan terjangkitnya jenis penyakit tertentu yang dapat menginfeksi udang yang ada di dalam tambak.
 Pemberian pakan segar dapat dikurangi jumlah dan intensitasnya apabila kondisi udang telah menunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik terutama yang menyangkut nafsu makannya.

Pakan Tambahan Lainnya
Berbagai jenis pakan seperti telah disebutkan di atas (pakan alami, pakan buatan dan pakan segar) dalam kondisi tertentu belum mampu menyediakan kebutuhan atas jenis nutrisi tertentu yang diperlukan udang, sehingga memerlukan makanan/zat yang bersifat suplemen dan diberikan dalam kondisi dan waktu tertentu pula.
Pakan tambahan lainnya, yaitu pakan yang bersifat sebagai suplemen dari pakan buatan dan dapat diberikan secara campuran dengan pakan buatan maupun terpisah dengan tujuan mengisi kekurangan nutrisi tertentu dari pakan buatan.
Jenis nutrisi suplemen yang biasa digunakan dalam pemberian pakan bagi udang antara lain berbagai macam vitamin dan protein yang diperlukan udang. Nutrisi ini diberikan secara campuran dengan pakan buatan dengan media perekat yang digunakan berupa telur ayam/bebek. Campuran tersebut dikeringkan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada udang.
Berbeda dengan jenis pakan lainnya, pakan tambahan ini bukan merupakan suatu yang bersifat mutlak dan tidak semua kegiatan budidaya udang di berbagai tempat menggunakan jenis pakan tambahan ini, karena penggunaan nutrisi suplemen lebih banyak yang bersifat try and error dan ditinjau dari segi biaya jenis pakan tambahan ini lebih membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Oleh: eel ganteng | Desember 8, 2009

mengatasi parasit

MENGATASI PARASIT PADA IKAN

Serangan parasit pada suatu usaha budidaya ikan menimbulkan dampak negatif yang cukup tinggi. Apabila tidak ditangani segera tidak tertutup kemungkinan terjadi infeksi sekunder oleh patogen lain seperti bakteri dan virus misalnya melalui luka yang ditimbulkan olehnya. Memahami etiologi dari dari parasit amat penting untuk menentukan jenis pengobatan ikan yang tepat. Peralatan yang diperlukan hanyalah mikroskop cahaya beserta pengetahuan tentang morfologi dan taksonomi dari si parasit.

Dalam memulai pemeriksaan sebaiknya diperiksa bagian luar tubuhnya, apakah terdapat makro parasit seperti lintah ataupun organisme dari jenis crustacea. Sebagai tambahan infestasi cacing trematoda bisa juga terlihat dari kulit tercirikan dari gumpalan putih. Selanjutnya pemeriksaan ikan dapat dilanjutkan dengan mengeruk kulit dan insang ikan. Setelah itu sampel bisa diperiksa pada mikroskop dengan magnifikasi 40x atau 100x.  Pada magnifikasi ini akan terlihat apakah ada organisme renik dari bentuk ataupun gerakannya seperti protozoa ciliata (misal Trichodina), cacing parasit monogenea, ataupun yang lain.

Apabila parasit telah diketahui maka langkah selanjutnya adalah menentukan seberapa parah serangan parasit dengan menentukan jumlah parasit per ikan. Bila detemui parasit dalam jumlah sedikit sebetulnya masih dianggap wajar dan tidak mengganggu proses akuakultur. Bila jumlah parasit yang menyerang ikan sangat banyak maka perlu dilakukan tindakan lanjutan demi menghindari kematian pada ikan² yang lain.

Pemeriksaan parasit yang rutin tentunya adalah bagian yang penting dari manajemen kesehatan ikan dan jika memungkinkan dilakukan secara reguler. Penting sekali untuk mengetahui jenis² parasit penting yang menyerang ikan karena akan menentukan metoda pengobatannya kelak. Sebagai contoh, parasit penting yang menyerang pada ikan Nila dapat dibagi dalam beberapa kelompok antara lain: ciliata protozoa, dinoflagellata, monogenea, digenea trematoda, copepoda crustacea dan hirudidae.

Parasit adalah bagian dari ekosistem. Ada beberapa faktor yang menentukan prevalensi dan tingkat serangan dari parasit. Faktor-faktor ini terkait dengan faktor biologis ikan dan juga faktor lingkungan.

Faktor Biologis

  1. Umur: Umur ikan menentukan kerentanan ikan terhadap parasit. Ikan yang lebih muda lebih rentan terhadap parasit dibanding ikan dewasa. Sebagai contoh benih ikan sangat rentan terhadap parasit protozoa.
  2. Stress: Kolam budidaya yang terlalu padat atau kolam yang mengalami perubahan kualitas air dapat berdampak terhadap timbulnya stress pada ikan. Tingkat imunitas pada ikan dapat menurun bila ikan mengalami stress sehingga ikan lebih rentan terhadap penyakit. Ikan yang lemah akan mengalami serangan parasit yang meningkat dan mungkin akan terjadi serangan sekunder oleh patogen lainnya seperti bakteri atau virus melalui jaringan kulit yang rusak.
  3. Nutrisi: Jika ikan ikan tidak memiliki nutrisi yang cukup maka sistem kekebalan akan menurun dan tidak dapat mentolerir keberadaan parasit. Pakan pada awal hidup ikan sangat penting untuk membantunya selamat dari serangan parasit.
  4. Tingkat Kepadatan yang tinggi: Tingkat kepadatan ikan yang tinggi mampu menimbulkan stres dan peluang menyebarnya parasit. Transmisi langsung dari ikan ke ikan digunakan oleh protozoa ciliara dan trematoda monogenea. Sangat lebih mudah bagi parasit untuk menemukan inang pada kolam yang padat ikan dan hal ini memungkinkan parasit untuk berkembang secara pesat.

Faktor Lingkungan:

  1. Salinitas: Beberapa jenis parasit hanya dapat hidup pada air tawar sebaliknya beberapa jenis hanya bisa hidup pada air yang bersalinitas tinggi (air laut). Salinitas adalah faktor penting dalam serangan suatu parasit yang spesifik. Misalnya beberapa spesies Trichodina hanya dapat mentoleransi air tawar dan akan mati bila salinitas air meningkat sebanyak 5 ppt.
  2. Kualitas air: Kualitas air yang buruk semisal amoniak yang tinggi, oksigen terlarut yang rendah, kandungan bahan organik yang tinggi dan keberadaan bakteri akan menciptakan lingkungan hidup yang kurang baik bagi ikan dan menimbulkan stres.
  3. Jenis sistem akuakultur: Tiap jenis sistem akuakultur mempunyai karakter yang berbeda. Sistem akuakultur seperti keramba yang menampung ikan dengan jumlah yang banyak akan sangat mendukung bagi transmisi ektoparasit yang mempunyai siklus hidup langsung. Kolam tanah adalah lingkungan yang lebih kompleks dimana parasit seperti copepoda krustacea dapat bereproduksi di sela tanaman air. Lumpurnya sendiri bisa menjadi reservoir untuk dinoflagellata seperti Amyloodinium atau invertebrata sebagai inang perantara dari digenea trematoda. Semakin besar kolam maka semakin sulit untuk mengatasi populasi parasit.
Oleh: eel ganteng | Desember 7, 2009

hama dan penyakit ikan

HAMA DAN PENYAKIT IKAN

Hama dan penyakit ikan karantina golongan bakteri yailtu Aeromonas salmonicida, Renibacterium salmoninarum, Nocardia spp., Edwardsiella ictaluri, Pasteurella piscicida, Aerococcus viridans (var) homari, Mycobacterium spp., Edwardsiella tarda, Streptococus spp. dan Yersinia ruckeri.
Beberapa jenis bakteri tersebut dilaporkan telah terdapat di Indonesia namun belum tersebar luas, yaitu Aeromonas salmonicida di Jawa, Mycobacterium sp. di Jawa dan Sumatera, Edwardsiella tarda di Jawa serta Streptococcus sp. Di Sulawesi.
Upaya pencegahan melalui tindakan karantina terhadap ikan-ikan yang diimpor dari luar negeri maupun yang dilalulintaskan di dalam wilayah Indonesia harus dilakukan untuk mencegah masuknya jenis-jenis bakteri yang belum terdapat atau sudah terdapat di Indonesia tetapi belum tersebar luas.

BIOLOGI
Aeromonas salmonicida adalah bakteri yang berbentuk batang pendek dengan ukuran 1,3-2,0 x 0,8-1,3 µm, bersifat gram negatif, tidak bergerak, tidak membentuk spora maupun kapsul, dan bersifat aerob. Bakteri ini tidak dapat hidup lama tanpa inangnya dan suhu optimal bagi pertumbuhannya antara 22-28oC, sedangkan pada suhu 35oC pertumbuhannya terhambat. Dapat dijumpai di lingkungan air tawar maupun air laut dan dikenal sebagai penyebab penyakit “furunculosis”.
Renibacterium salmoninarum yang dikenal sebagai penyebab “kidney disease” adalah bakteri yang berbentuk batang pendek dengan ukuran 0,3-1,5 x 0, 1-1,0 µm, bersifat gram positif, tidak bergerak, tanpa kapsul, sering terdapat berpasangan dan bersifat aerob. Bakteri ini dapat dijumpai di lingkungan air tawar maupun air laut dengan suhu optimal pertumbuhannya antara 15-18oC, sedangkan pada suhu 25oC perturnbuhannya akan terhambat.
Mycobacterium sp. yang dikenal sebagai penyebab penyakit ” tuberkulosis ikan” (Fish TB), adalah bakteri yang berbentuk batang, dengan ukuran 0,2-0,6 x 1,0-10 µm, bersifat gram positif lemah, tidak bergerak, tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat aerob. Bakteri ini banyak dijumpai di perairan tawar dan laut maupun tanah dengan suhu optimal pertumbuhannya 25-30oC. Tidak dapat tumbuh pada suhu 37oC kecuali M. marinum, M. fortuitum dan M. chelonei.
Nocardia sp. adalah bakteri yang bentuknya bervariasi yaitu bulat, oval dan batang berfilamen, dengan ukuran diameter 0,5-1,2 µm, bersifat gram positif, bergerak, tidak membentuk kapsul dan bersifat aerob. Bakteri ini tersebar di alam termasuk di air dan tanah. Suhu optimal bagi pertumbuhan Nocardia asteroides antara 28-35oC, sedangkan N. kampachi tidak tumbuh pada suhu 10oC atau 37oC.
Edwardsiella tarda dan E. Ictaluri berbentuk batang bengkok, dengan ukuran 1 x 2-3 µm, bersifat gram negatif bergerak dengan bantuan flagella, tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat fakultatif anaerob. Bakteri ini dapat dijumpai di lingkungan air tawar dan air laut, dengan suhu optimal bagi pertumbuhannya sekitar 35oC, sedangkan pada suhu di bawah 10oC atau di atas 45oC tidak dapat tumbuh.
Pasteurella piscicida berbentuk batang pendek, berukuran 0,6-1,2 x 0,8-2,6 µm, bersifat gram negatif, tidak bergerak, tidak membuat kapsul maupun spora dan bersifat fakultatif anaerob. Bakteri ini dapat hidup di lingkungan air laut dengan kisaran suhu untuk pertumbuhannya 10-39oC. Umumnya yang diisolasi dari ikan dapat tumbuh baik pada suhu 25oC.
Streptoccocus sp. berbentuk bulat atau oval, memanjang seperti rantai, bersifat gram positif, tidak bergerak, tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat fakultatif aerob. Diameter bakteri berukuran 0,7-1,4 µm. Bakteri ini dapat hidup di air tawar dan air laut dengan kisaran suhu bagi pertumbuhannya antara 10-45oC. Yersinia ruckeri berbentuk batang, dengan ukuran 0,5-0,8 x 1,3 µm, bersifat gram positif, tidak membentuk spora atau kapsul, bergerak dengan flagella peritrichous pada suhu di bawah 30oC, sedangkan pada suhu 37oC tidak membentuk flagella. Bakteri ini dapat dijumpai di air dengan suhu optimal pertumbuhannya 22-25oC.
Aerococcus viridans (var.) homari adalah bakteri yang berbentuk bulat, ada yang berpasangan atau seperti rantai, bersifat gram positif, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri ini dapat ditemukan di air tawar atau juga air laut. Pada umumnya sumber dan cara penularan penyakit akibat serangan bakteri-bakteri tersebut di atas antara lain melalui ikan yang sakit, ikan karir, air yang terkontaminasi, makanan yang terkontaminasi, telur yang terkontaminasi, alat atau pakaian yang terkontaminasi atau melalui bulu burung air.

PENYERANGAN
Untuk Mycobacterium sp. Cara penularannya belum diketahui dengan pasti diduga beberapa yang mungkin adalah melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Cara penularan Nocardia sp. Pada ikan juga belurn jelas diketahui, sedangkan penularan Aerococcus viridans melalui ikan yang sakit.
Renibacterium salmoninarum dan Yersinia ruckeri dilaporkan menyerang ikan famili Salmonidae, sedangkan Aeromonas salmonicida selain menyerang ikan-ikan famili Salmonilidae juga menyerang ikan-ikan non salmon seperti sidat (Anguilla spp.), chubs (Coregonus zenithicus), dace, tenc, carp, catfish, pike, sculpins, perch, gold fish (Carassius auratus) dan spesies ikan lainnya. Ada indikasi bahwa semua spesies ikan baik tawar ataupun laut dapat bersifat rentan terhadap Aeromonas salmonicida. Selain menyerang berbagai ikan air tawar ataupun air laut, Mycobacterium sp. Dilaporkan juga menyerang katak, jenis-jenis kadal, ular, buaya dan kura-kura maupun penyu. Nocardia sp. dilaporkan menyerang berbagai ikan air tawar dan air laut antara lain rainbaow trout (Oncorhynchus mykiss), brook trout (Salvelinus fontinalis), neon tetra, sepat (Trichogaster trichopterus), paradise fish, gurami dan yellow tail (Seriolla quinquiradiata).
Edwardseilla tarda dilaporkan menyerang ikan-ikan air tawar dan laut antara lain channel catfish (Ictalurus punctatus), chinook salmon (Onchorhynchus tshawyscha). Common carp (Cyprinus carpio), crimson seabream (Evynnis japonicus), japanese flounder (Paralichthys olivaceus), japanese eel (Anguilla japonica), Largemouth bass (Mycropterus salmoides), mullet (Mugil cephalus), red sea bream (Chrysophrys major), striped bass (Morone saxatilis), Tilapia (Tilapia nilotica), Yellow tail (Seriolla quinquiradiata), ular, buaya dan singa laut, sedangkan Edwardseilla ictaluri dilaporkan menyerang channel catfish (Ictalurus furcatus), brown bullhead (Ictalurus nebulosus), blus catfish (Ictalurus furcatus), Danio (Danio devario), green knifefish (Eigemannia virens), Walking catfish (darias batrachus), White catfish (Ictalurus catus).
Stireptococcus dilaporkan menyerang jenis-jenis ikan air tawar dan laut antara lain rainbow trout (Onchorhynchus mykiss), sea trout (Cynoscion regalis), silver trout (Cynoscion nothus), golden shiner (Notemigonus crysoleucas), yellow tail (Seriola quinquiradiata), menhaden (Brevoortia patronus), Sea Catfish (Arius felis), striped mullet (Mugil cephalus), pinfish (Lagodon rhomboides), Atlantic croaker (Macropogon undulatus), spot (Leiostomus exanthus), Sting ray (Dasyatis sp.), Dolphin air tawar (Iniageoffrensis), Sidat (Angulla japonica), Ayu (Leicoglossus altivelis), Amago salmon (Onchorhynchus rhodurus), Jacopever (Paralichthys olivaceus), Striped bass (Morone saxatilis), Blue fish (Pomatomous saltatic), Siganids (Siganus cahaliculatus), Sea Bream (Pagrus major), tilapia (Oreochromis sp.) dan Channel catfish (Ictalurus punctatus).
Pasteurella piscicida dilaporkan menyerang ikan-ikan laut antara lain Ayu (Plecoglossus altivelis), black seabream (Mylio macrocephalus), red seabrearn (Pagrus major), kerapu merah (Epinephelus akaara), yellow tail (Seriola quinquiradiata) dan menhaden (Brevoortia patronus), sedangkan Aerococcus virridans dilaporkan meyerang lobster Amerika.

GEJALA PENYAKIT
Gejala klinis akibat serangan
Aeromonas salmonicida pada ikan adalah pembengkakan di bawah kulit yang biasanya menjadi luka terbuka berisi nanah, darah, dan jaringan yang rusak dipuncak luka tersebut seperti cekungan, sirip putus atau patah, pendarahan pada insang, petikiae pada otot, usus bagian belakang lengket dan bersatu, serta pembengkakan limpa dan ginjal yang berkembang menjadi nekrosis atau kernatian jaringan.
lkan yang terserang Renibacterium salmoninarum menunjukkan tanda-tanda luar dan dalam seperti mata menonjol, perut kembung, sisik berdiri, pendarahan, abses di beberapa bagian tubuh dan wama kehitam-hitaman, ginjal luka dan berwama abu-abu, kernudian ginjal bengkak dan terjadi nekrosis.
Serangan Mycobacterium sp. pada ikan menunjukkan tanda-tanda seperti mata menonjol, pembengkakan vena, dan adanya luka pada tubuh, mama pucat, lordosis, skeliosis, ulser atau luka dan rusaknya sirip (patah-patah). Adanya bintil berwama putih keabu-abuan pada hati, ginjal dan empedu. Benjolan terdapat di berbagai organ seperti insang, pericardium, mata, empedu, ginjal dan hati.
Gejala klinis pada ikan yang terserang Nocardia sp. adalah pembengkakan pada organ yang terserang (seperti tumor), ulser atau luka pada permukaan tubuh, lemah, nafsu makan menurun dan kurus.
Serangan Edwardsiella tarda dan E. ictaluri pada ikan dalarn tahap infeksi ringan hanya menampakkan luka-luka kecil, Sebagai perkembangan penyakit lebih lanjut, luka bernanah berkembang dalarn otot rusuk dan lambung. Pada kasus akut, luka bernanah secara cepat bertambah dengan berbagai ukuran, kemudian luka-luka terisi gas dan terlihat bentuk cembung menyebar keseluruh tubuh. Warna tubuh hilang, dan luka-luka merata diseluruh tubuh, jika luka digores, akan tercium bau busuk (H2S).
Ikan yang terserang Streptococcus sp, menunjukkan gejala seperti mata menonjol, pendarahan pada kelopak mata, ginjal membengkak, hati menjadi merah tua dan kerusakan usus.
Gejala yang terlihat akibat serangan Pasteurella piscicida pada ikan adalah wrna tubuh menjadi gelap, pendarahan pada tutup insang dan sirip, serta Iuka pada ginjal dan limpa.
Ikan yang terserang Yersinia ruckeri akan terlihat lamban, warna tubuh menjadi gelap cairan kuning pada usus, perut berisi cairan yang tidak berwarna, pendarahan pada otot dan organ dalam, serta radang pada bagian tertentu seperti mulut, langit-langit, tutup insang dan pangkal sirip.
Tanda-tanda klinis akibat serangan Aerococcus viridans pada lobster tidak jelas, kadang-kadang terlihat warna merah muda pada perut bagian atas.

Mekanisme Patogenisitas
Kristal protein yang termakan oleh serangga akan larut dalam lingkungan basa pada usus serangga. Pada serangga target, protein tersebut akan teraktifkan oleh enzim pencerna protein serangga. Protein yang teraktifkan akan me-nempel pada protein receptor yang berada pada permukaan sel epitel usus. Penempelan tersebut mengakibatkan terbentuknya pori atau lubang pada sel sehingga sel mengalami lysis. Pada akhirnya serangga akan mengalami gangguan pencernaan dan mati.

Oleh: eel ganteng | Desember 4, 2009

perikanan yang berkelanjutan

Tugas Terstruktur

Aquakultur Engginering

Pemanfaatan Wilayah Pesisir Pantai

Sebagai Kawasan Perikanan yang Berwawasan Lingkungan

Disusun oleh

Kukuh Prihantoro

J1B006008

JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2009

PENDAHULUAN

Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumberdaya perairan pantai dan laut menjadi paradigma baru pembangunan di masa sekarang yang harus dilaksanakan secara rasional dan berkelanjutan. Kebijakan ini sangat realistis karena didukung oleh fakta adanya potensi sumberdaya laut dan pantai yang masih cukup besar peluangnya untuk pengembangan eksploitasi dibidang perikanan baik penangkapan maupuan usaha budidaya ikan.

Wilayah pesisir dan lautan memainkan peran yang penting sebagai sumber penghidupan bagi penduduk Indonesia. Diperkirakan kedua wilayah ini akan menjadi tumpuan bagi pembangunan bangsa Indonesia di masa depan. Hal ini disebabkan sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah pesisir dan laut yang memiliki berbagai sumberdaya alam serta jasa lingkungan yang beragam. Ada  beberapa  sumberdaya  alam  pesisir  yang dapat dikelola dan dikembangkan, diantaranya sumberdaya perikanan yang mencakup sumberdaya perikanan  tangkap  dan perikanan  budidaya. Perikanan budidaya  meliputi budidaya payau, pantai dan laut. Dengan semakin menurunnya produksi yang dihasilkan  oleh  perikanan  tangkap,  maka  usaha pemanfaatan lahan  tambak, khususnya  budidaya  air  payau  (tambak  udang) diharapkan  mampu  menopang target produksi nasional perikanan.

Pengembangan  pemanfaatan  lahan  tambak  selain  untuk  meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, diharapkan juga oleh pemerintah mampu menjadi sektor pengumpul devisa negara dalam jumlah besar. Perkembangan suatu wilayah akan sangat terkait dengan perubahan yang terjadi pada komponen utama dari suatu wilayah. Perubahan salah satu komponen dari wilayah akan mempengaruhi komponen lainnya, dan perubahan itu dapat menunjukkan adanya suatu proses pertumbuhan, stagnasi atau kemunduran wilayah.

Pemahaman terhadap perubahan di suatu wilayah akan berarti sama halnya dengan pemahaman mengenai faktor yang mempengaruhi perubahan suatu wilayah sebagai suatu proses yang melibatkan suatu interaksi yang kompleks antara aktivitas-aktivitas yang ada di suatu wilayah (Winoto, 1995). Hal lain yang perlu dilihat dalam menilai perubahan suatu wilayah adalah transformasi struktural yang terjadi di wilayah tersebut, baik yang berkaitan dengan transformasi ekonomi, ketenagakerjaan, demografi, sosial dan budaya masyarakat (Winoto, 1996).

PEMBAHASAN

Ketersediaan lahan secara total bersifat tetap di suatu wilayah, sedangkan permintaan terus bertambah dengan cepat terutama di sekitar kawasan perkotaan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, kegiatan ekonomi dan migrasi dari wilayah lain maupun wilayah hitterland kota di wilayah yang bersangkutan (urbanisasi) (Nasoetion dan Wagner, 1985). Desakan peningkatan kebutuhan akan lahan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya konversi lahan perikanan karena di satu sisi kondisi kegiatan usaha perikanan yang tengah mengalami kelesuan karena berbagai penyebab, di sisi lain kebutuhan ekonomi yang terus menekan para pemilik lahan baik untuk keperluan hidup sehari-hari maupun untuk menutupi kerugian usaha yang dialaminya. Salah satu lahan perikanan yang mendapatkan tekanan terhadap peningkatan kebutuhan lahan untuk penggunaan non sektor perikanan adalah lahan pertambakan.

Lahan, khususnya lahan tambak tipologi penggunaannya sangat strategis bagi Indonesia, hal ini didasarkan oleh:

  • Tambak merupakan salah satu rekayasa teknologi sumberdaya lahan dengan investasi yang besar.
  • Tambak yang produktif dapat dijadikan sebagai alternatif menekan kecenderungan migrasi ke kota, namun tambak yang tidak produktif justru turut menyokong kecenderungan migrasi ke kota yang sulit dihindari.
  • Konflik pemanfaatan sumberdaya lahan khususnya lahan tambak yang akan dikonversi untuk penggunaan non perikanan seperti industri dan perumahan membutuhkan strategi antar sektor.

Tambak adalah kolam buatan, biasanya di daerah pantai, yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai sarana budidaya perairan (akuakultur). Hewan yang dibudidayakan adalah hewan air, terutama ikan, udang, serta kerang. Penyebutan tambak ini biasanya dihubungkan dengan air payau atau air laut. Kolam yang berisi air tawar biasanya disebut kolam saja atau empang (Wikipedia.com).

Secara teoritis konversi lahan tambak ke penggunaan lain di luar perikanan tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor baik faktor ekonomis secara keseluruhan maupun faktor demografis. Berdasarkan asumsi bahwa persediaan lahan (supply) adalah tetap maka pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan oleh tumbuhnya beberapa sektor ekonomi akan membutuhkan lahan-lahan baru. Apabila lahan tambak tersebut berada di dekat pusat pertumbuhan ekonomi terutama di kawasan perkotaan maka secara langsung atau tidak langsung akan menekan lahan tambak ke penggunaan lain seperti pemukiman, industri maupun sarana prasarana. Hal ini disebabkan oleh karena rent per satuan luas lahan yang diperoleh dari ektivitas baru lebih tinggi dari sektor perikanan. Hal tersebut secara logika berimplikasi terjadinya relokasi lahan yang semakin cepat dan meluas. Sebaliknya bila secara agregat nilai proporsi sektor perikanan tambak menunjukkan kecenderungan yang tinggi maka proses konversi lahan tambak tersebut akan cenderung lebih lambat.

Pergeseran Tata Guna Lahan

Mengingat produktivitas sektor perikanan yang semakin menurun dan di lain pihak nilai tukar sektor perikanan (di-proxi dari sektor pertanian) terhadap sektor lain seperti sektor industri yang semakin menurun juga maka jumlah pekerja di sektor perikanan cenderung terjadi penganguran tak kentara berindikasi kuat pada proses terjadinya konversi lahan tambak tersebut.  Akibatnya secara teoritis proporsi tenaga kerja sektor perikanan terhadap total pekerja diduga berkorelasi dengan konversi lahan tambak secara negatif, artinya semakin besar proporsi pekerja perikanan tersebut justru akan mengurangi proposri lahan tambak secara keseluruhan.

Secara teoritis lahan mempunyai kemungkinan penggunaan yang bermacam-macam, sehingga dalam suatu waktu pilihan penggunaan lahan dianggap sebagai cerminan penggunaan lahan yang optimal. Optimalisasi penggunaan suatu lahan akan berubah bila terdapat pergeseran nilai rent ekonomi dari lahan tersebut atau manfaat marjinal dari peubahan alokasi penggunaan lahan tersebut lebih besar dari ongkos marjinal yang diakibatkan oleh perubahan tersebut sehingga menyebabkan terjadinya realokasi lahan ke penggunaan lainnya (Pakpahan & Anwar, 1989).

Terdapat dugaan bahwa kawasan pertumbuhan seperti kota-kota besar beserta kawasan hitterland di sekitarnya mempunyai kecenderungan meningkatkan realokasi lahan. Hal ini berkaitan dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, selain pertumbuhan ekonomi juga tekanan penduduk akibat konsentrasi migrasi dari daerah lain di sekitarnya. Dua faktor ini menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung dari pergeseran rent lahan tanpa kecuali lahan tambak yang berada di sekitarnya. Akibatnya terjadi penggunaan lahan yang produktif ke arah penggunaan non perikanan seperti industri, perumahan dan sarana prasarana. Perubahan ini mengikuti sistem ekonomi pedesaan ke sisitem ekonomi urban.

Arah pergeseran proporsi luasan lahan sawah untuk setiap kawasan dan proporsi luas pemukiman terhadap total luas lahan tambak, sedikit banyak menggambarkan pergeseran sistem urban tersebut. Secara umum pergeseran tersebut selain mengikuti perkembangan kota dimana semakin besar kota semakin besar pula pergeserannya, juga mengikuti pola jalur alteri mulai Surabaya beergerak ke timur dan ke barat. Surabaya sebagai pusat urban dan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur mewarnai arah dan corak pergeseran tersebut. Di samping mampu mempengaruhi kawasan pinggiran juga hitterland di sekitarnya yaitu Mojokerto, Gersik dan Siodarjo. Tampak bahwa sekitar Surabaya tersebut terjadi perubahan proporsi luas lahan tambak terhadap total luas lahan yang cenderung menyusut.

Selain itu kuatnya peranan pertumbuhan kawasan terhadap peluang konversi lahan tambak namun pola pertumbuhan kawasan yang ada tersebut cenderung memusat. Hal ini berarti bahwa kawasan yang padat tersebut tidak selalu mempunyai peluang yang kuat terhadap konversi lahan tambak, tetapi hanya terbatas pada kawasan perkotaan atau pinggiran karena besarnya potensi permintaan efektif terhadap lahan. Untuk itu hendaknya dalam pembangunan kawasan lebih memperhatikan keterkaitan dengan usaha mengurangi pengangguran tersembunyi di sektor perikanan sehingga kemungkinan terjadi konflik dalam pemanafaatan lahan dapat dikurangi.

Penggunaan Lahan Alternatif Guna Mengurangi Dampak Negative Kerusakan Ekosistem

Kegiatan budidaya udang tambak selama ini dilaksanakan di kawasan pantai berhutan bakau dengan tekstur tanah liat seperti di pantai utara Pulau Jawa, Lampung, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Tekstur tanah liat, ditinjau dari segi konstruksi, sangat ideal untuk tambak udang, karena sangat kedap air sehingga menghindarkan kemungkinan terjadinya kebocoran pada tambak. Meskipun demikian, ditinjau dari segi biologis tekstur seperti ini memiliki kelemahan, karena tanah liat sangat memungkinkan terbentuknya lapisan lumpur di dasar tambak sehingga dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap kehidupan atau pertumbuhan kultivar  yang dipelihara.

Dampak negatif tersebut antara lain terjadi karena bahan organik berupa sisa makanan atau detritus yang terikat dengan liat lempung akan sulit teroksidasi kembali sewaktu dilakukan pengolahan dasar tambak. Akibatnya pada saat digenangi air, bahan organik tersebut akan terurai pada kondisi anaerob sehingga menghasilkan gas beracun seperti H2S, NH3 dan NH4 yang sangat membahayakan kultivar. Selain itu, lapisan lumpur dapat pula mengakibatkan timbulnya penyakit yang menyerang kultivar sebagaimana terjadi akhir-akhir ini pada hampir sebagian besar tambak di Indonesia.

Pembangunan tambak pada lahan pantai berpasir belum banyak dilakukan, karena pertimbangan ekonomis. Konstruksi tambak pada lahan berpasir cenderung membutuhkan biaya investasi yang besar, karena harus ditembok beton, dan itupun kadang kala masih mengalami kegagalan karena setelah diisi air, tambak bocor sehingga tidak dapat dioperasikan.

Manfaat

pada tambak-tambak bertekstur lumpur, produktivitas tambak cenderung menurun setelah periode pemeliharaan tahun kedua. Hal ini terjadi karena penumpukan lumpur, sehingga diperlukan pekerjaan tambahan yang disebut dengan “keduk teplok” yaitu upaya membuang lapisan lumpur pada dasar tambak sebelum periode tanam dilakukan. Pada tambak pasir, produktivitas tambak cenderung konstan sampai dengan periode tanam ke-12. karena tumbuh pada lingkungan dasar tambak yang relatif lebih bersih.

Agar tambak mudah dikeringkan dan sisa pakan selama pemeliharaan dapat dibersihkan, maka dasar tambak dibuat miring ke tengah dengan tingkat kemiringan 1-2%. Selanjutnya di tengah dasar tambak dilengkapi dengan konstruksi pengeluaran air (central drainage). Central drainage terdiri dari bangunan tower, saringan air dan pipa pembuangan bawah tanah terbuat dari pipa PVC 12″.

Selain konstruksi petakan tambak, perlu pula diperhatikan konstruksi saluran pemasukan air (inlet) dan konstruksi pembuangan air (outlet). Saluran pemasukan air dibuat di atas pematang tambak yang menghubungkan sumber air sungai (yang dipompakan ke saluran) dengan petakan tambak. Konstruksi saluran air tersebut terbuat dari pasangan bata merah selebar 0,5 m dan tinggi 0,5 m, yang bagian dasarnya diperkuat dengan fondasi batu kali. Saluran pembuangan dibuat di bawah tanah dan lebih rendah dari dasar tambak, terbuat dari buis beton yang menampung air pembuangan yang berasal daricentral drainage.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, A. (1990). Beberapa konsepsi alokasi sumberdaya alam untuk penentuan kebijaksanaan ke arah pembangunan yang berkelanjutan. Makalah disampaikan pada Seminar Ilmu Tanah Indonesia. Tanggal 9-10 Oktober 1990. Ujung Pandang.

Anwar, A. (1994).  Masalah pembangunan di kawasan perkotaan. Mata Ajaran Sistem Ekonomi Perkotaan dan Pembangunan Regional, Jurusan PWD Program Pascasarjana IPB, Februari 1994.

Nasoetion, L.I. (1982). Analisis lokasi. Diktat Bahan Kuliah Jurusan Pengembangan Wilayah dan Pedesaan (PWD), IPB, Bogor.

Nasoetion, L.I. dan Wagner, M. (1985). Struktur tata ruang wilayah yang memusat: Penyebab dan pengaruhnya pada daerah belakang. Studi Kasus Kodya Tebing Tinggi Sumatera Utara. Tesis. Bogor: Fakultas Pascasarjana, IPB.

Nasoetion, L.I. dan Rustandi, E. (1990). Masalah konversi lahan sawah ke penggunaan non sawah fokus Jawa-Bali. Makalah Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah “Pembangunan Pedesaan dan Masalah Pertanian” Tanggal 13 – 15 Februari 1990. Yogyakarta: PAU Studi Sosial – UGM.

Pakpahan, A. dan Anwar, A. (1989). Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah. Jurnal Agro Ekonomi Vol. 8 No. 1, Mei 1989. Bogor: Pusat Penelitian Agro Ekonomi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Pierce, D.W. and Turner, R.K. (1990). Economics at natural resource and the enviroment. New York, London, Toronto, Sidney, Tokyo: Harvesten Wheatbeaf.

Pindyck, R.S. and Rubinfeld, D.C. (1991). Econometric Models And Economics Forecast. Third Edition. New York: McGraw-Hill.

Richardson, H.W. (1977). Dasar-dasar ilmu ekonomi regional. Terjemahan Program Perencanaan Nasional. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sandy, J.M. (1989). Esensi pembangunan wilayah dan penggunaan tanah berencana. Jakarta: Penerbit Geo-MIPA, Universitas Indonesia.

Winoto, J. (1995). Kriteria proyek-proyek dan program-program pembangunan yang seharusnya diprioritaskan pendanaannya dalam pembangunan nasional. Bogor: Bahan Kuliah Studi PWD Pascasarjana IPB.

Winoto, J. (1996). Transformasi struktur perekonomian dan ketenagakerjaan nasional: Tinjauan teoritis dan aplikasinya terhadap transformasi perekonomian dan ketenagakerjaan nasional yang telah terjadi dan proyeksinya sampai akhir PJP II. Bogor: Program Studi PWD Pascasarjana IPB.

www.google.co.id

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.