Oleh: eel ganteng | Desember 4, 2009

perikanan yang berkelanjutan

Tugas Terstruktur

Aquakultur Engginering

Pemanfaatan Wilayah Pesisir Pantai

Sebagai Kawasan Perikanan yang Berwawasan Lingkungan

Disusun oleh

Kukuh Prihantoro

J1B006008

JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2009

PENDAHULUAN

Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumberdaya perairan pantai dan laut menjadi paradigma baru pembangunan di masa sekarang yang harus dilaksanakan secara rasional dan berkelanjutan. Kebijakan ini sangat realistis karena didukung oleh fakta adanya potensi sumberdaya laut dan pantai yang masih cukup besar peluangnya untuk pengembangan eksploitasi dibidang perikanan baik penangkapan maupuan usaha budidaya ikan.

Wilayah pesisir dan lautan memainkan peran yang penting sebagai sumber penghidupan bagi penduduk Indonesia. Diperkirakan kedua wilayah ini akan menjadi tumpuan bagi pembangunan bangsa Indonesia di masa depan. Hal ini disebabkan sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah pesisir dan laut yang memiliki berbagai sumberdaya alam serta jasa lingkungan yang beragam. Ada  beberapa  sumberdaya  alam  pesisir  yang dapat dikelola dan dikembangkan, diantaranya sumberdaya perikanan yang mencakup sumberdaya perikanan  tangkap  dan perikanan  budidaya. Perikanan budidaya  meliputi budidaya payau, pantai dan laut. Dengan semakin menurunnya produksi yang dihasilkan  oleh  perikanan  tangkap,  maka  usaha pemanfaatan lahan  tambak, khususnya  budidaya  air  payau  (tambak  udang) diharapkan  mampu  menopang target produksi nasional perikanan.

Pengembangan  pemanfaatan  lahan  tambak  selain  untuk  meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, diharapkan juga oleh pemerintah mampu menjadi sektor pengumpul devisa negara dalam jumlah besar. Perkembangan suatu wilayah akan sangat terkait dengan perubahan yang terjadi pada komponen utama dari suatu wilayah. Perubahan salah satu komponen dari wilayah akan mempengaruhi komponen lainnya, dan perubahan itu dapat menunjukkan adanya suatu proses pertumbuhan, stagnasi atau kemunduran wilayah.

Pemahaman terhadap perubahan di suatu wilayah akan berarti sama halnya dengan pemahaman mengenai faktor yang mempengaruhi perubahan suatu wilayah sebagai suatu proses yang melibatkan suatu interaksi yang kompleks antara aktivitas-aktivitas yang ada di suatu wilayah (Winoto, 1995). Hal lain yang perlu dilihat dalam menilai perubahan suatu wilayah adalah transformasi struktural yang terjadi di wilayah tersebut, baik yang berkaitan dengan transformasi ekonomi, ketenagakerjaan, demografi, sosial dan budaya masyarakat (Winoto, 1996).

PEMBAHASAN

Ketersediaan lahan secara total bersifat tetap di suatu wilayah, sedangkan permintaan terus bertambah dengan cepat terutama di sekitar kawasan perkotaan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, kegiatan ekonomi dan migrasi dari wilayah lain maupun wilayah hitterland kota di wilayah yang bersangkutan (urbanisasi) (Nasoetion dan Wagner, 1985). Desakan peningkatan kebutuhan akan lahan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya konversi lahan perikanan karena di satu sisi kondisi kegiatan usaha perikanan yang tengah mengalami kelesuan karena berbagai penyebab, di sisi lain kebutuhan ekonomi yang terus menekan para pemilik lahan baik untuk keperluan hidup sehari-hari maupun untuk menutupi kerugian usaha yang dialaminya. Salah satu lahan perikanan yang mendapatkan tekanan terhadap peningkatan kebutuhan lahan untuk penggunaan non sektor perikanan adalah lahan pertambakan.

Lahan, khususnya lahan tambak tipologi penggunaannya sangat strategis bagi Indonesia, hal ini didasarkan oleh:

  • Tambak merupakan salah satu rekayasa teknologi sumberdaya lahan dengan investasi yang besar.
  • Tambak yang produktif dapat dijadikan sebagai alternatif menekan kecenderungan migrasi ke kota, namun tambak yang tidak produktif justru turut menyokong kecenderungan migrasi ke kota yang sulit dihindari.
  • Konflik pemanfaatan sumberdaya lahan khususnya lahan tambak yang akan dikonversi untuk penggunaan non perikanan seperti industri dan perumahan membutuhkan strategi antar sektor.

Tambak adalah kolam buatan, biasanya di daerah pantai, yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai sarana budidaya perairan (akuakultur). Hewan yang dibudidayakan adalah hewan air, terutama ikan, udang, serta kerang. Penyebutan tambak ini biasanya dihubungkan dengan air payau atau air laut. Kolam yang berisi air tawar biasanya disebut kolam saja atau empang (Wikipedia.com).

Secara teoritis konversi lahan tambak ke penggunaan lain di luar perikanan tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor baik faktor ekonomis secara keseluruhan maupun faktor demografis. Berdasarkan asumsi bahwa persediaan lahan (supply) adalah tetap maka pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan oleh tumbuhnya beberapa sektor ekonomi akan membutuhkan lahan-lahan baru. Apabila lahan tambak tersebut berada di dekat pusat pertumbuhan ekonomi terutama di kawasan perkotaan maka secara langsung atau tidak langsung akan menekan lahan tambak ke penggunaan lain seperti pemukiman, industri maupun sarana prasarana. Hal ini disebabkan oleh karena rent per satuan luas lahan yang diperoleh dari ektivitas baru lebih tinggi dari sektor perikanan. Hal tersebut secara logika berimplikasi terjadinya relokasi lahan yang semakin cepat dan meluas. Sebaliknya bila secara agregat nilai proporsi sektor perikanan tambak menunjukkan kecenderungan yang tinggi maka proses konversi lahan tambak tersebut akan cenderung lebih lambat.

Pergeseran Tata Guna Lahan

Mengingat produktivitas sektor perikanan yang semakin menurun dan di lain pihak nilai tukar sektor perikanan (di-proxi dari sektor pertanian) terhadap sektor lain seperti sektor industri yang semakin menurun juga maka jumlah pekerja di sektor perikanan cenderung terjadi penganguran tak kentara berindikasi kuat pada proses terjadinya konversi lahan tambak tersebut.  Akibatnya secara teoritis proporsi tenaga kerja sektor perikanan terhadap total pekerja diduga berkorelasi dengan konversi lahan tambak secara negatif, artinya semakin besar proporsi pekerja perikanan tersebut justru akan mengurangi proposri lahan tambak secara keseluruhan.

Secara teoritis lahan mempunyai kemungkinan penggunaan yang bermacam-macam, sehingga dalam suatu waktu pilihan penggunaan lahan dianggap sebagai cerminan penggunaan lahan yang optimal. Optimalisasi penggunaan suatu lahan akan berubah bila terdapat pergeseran nilai rent ekonomi dari lahan tersebut atau manfaat marjinal dari peubahan alokasi penggunaan lahan tersebut lebih besar dari ongkos marjinal yang diakibatkan oleh perubahan tersebut sehingga menyebabkan terjadinya realokasi lahan ke penggunaan lainnya (Pakpahan & Anwar, 1989).

Terdapat dugaan bahwa kawasan pertumbuhan seperti kota-kota besar beserta kawasan hitterland di sekitarnya mempunyai kecenderungan meningkatkan realokasi lahan. Hal ini berkaitan dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, selain pertumbuhan ekonomi juga tekanan penduduk akibat konsentrasi migrasi dari daerah lain di sekitarnya. Dua faktor ini menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung dari pergeseran rent lahan tanpa kecuali lahan tambak yang berada di sekitarnya. Akibatnya terjadi penggunaan lahan yang produktif ke arah penggunaan non perikanan seperti industri, perumahan dan sarana prasarana. Perubahan ini mengikuti sistem ekonomi pedesaan ke sisitem ekonomi urban.

Arah pergeseran proporsi luasan lahan sawah untuk setiap kawasan dan proporsi luas pemukiman terhadap total luas lahan tambak, sedikit banyak menggambarkan pergeseran sistem urban tersebut. Secara umum pergeseran tersebut selain mengikuti perkembangan kota dimana semakin besar kota semakin besar pula pergeserannya, juga mengikuti pola jalur alteri mulai Surabaya beergerak ke timur dan ke barat. Surabaya sebagai pusat urban dan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur mewarnai arah dan corak pergeseran tersebut. Di samping mampu mempengaruhi kawasan pinggiran juga hitterland di sekitarnya yaitu Mojokerto, Gersik dan Siodarjo. Tampak bahwa sekitar Surabaya tersebut terjadi perubahan proporsi luas lahan tambak terhadap total luas lahan yang cenderung menyusut.

Selain itu kuatnya peranan pertumbuhan kawasan terhadap peluang konversi lahan tambak namun pola pertumbuhan kawasan yang ada tersebut cenderung memusat. Hal ini berarti bahwa kawasan yang padat tersebut tidak selalu mempunyai peluang yang kuat terhadap konversi lahan tambak, tetapi hanya terbatas pada kawasan perkotaan atau pinggiran karena besarnya potensi permintaan efektif terhadap lahan. Untuk itu hendaknya dalam pembangunan kawasan lebih memperhatikan keterkaitan dengan usaha mengurangi pengangguran tersembunyi di sektor perikanan sehingga kemungkinan terjadi konflik dalam pemanafaatan lahan dapat dikurangi.

Penggunaan Lahan Alternatif Guna Mengurangi Dampak Negative Kerusakan Ekosistem

Kegiatan budidaya udang tambak selama ini dilaksanakan di kawasan pantai berhutan bakau dengan tekstur tanah liat seperti di pantai utara Pulau Jawa, Lampung, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Tekstur tanah liat, ditinjau dari segi konstruksi, sangat ideal untuk tambak udang, karena sangat kedap air sehingga menghindarkan kemungkinan terjadinya kebocoran pada tambak. Meskipun demikian, ditinjau dari segi biologis tekstur seperti ini memiliki kelemahan, karena tanah liat sangat memungkinkan terbentuknya lapisan lumpur di dasar tambak sehingga dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap kehidupan atau pertumbuhan kultivar  yang dipelihara.

Dampak negatif tersebut antara lain terjadi karena bahan organik berupa sisa makanan atau detritus yang terikat dengan liat lempung akan sulit teroksidasi kembali sewaktu dilakukan pengolahan dasar tambak. Akibatnya pada saat digenangi air, bahan organik tersebut akan terurai pada kondisi anaerob sehingga menghasilkan gas beracun seperti H2S, NH3 dan NH4 yang sangat membahayakan kultivar. Selain itu, lapisan lumpur dapat pula mengakibatkan timbulnya penyakit yang menyerang kultivar sebagaimana terjadi akhir-akhir ini pada hampir sebagian besar tambak di Indonesia.

Pembangunan tambak pada lahan pantai berpasir belum banyak dilakukan, karena pertimbangan ekonomis. Konstruksi tambak pada lahan berpasir cenderung membutuhkan biaya investasi yang besar, karena harus ditembok beton, dan itupun kadang kala masih mengalami kegagalan karena setelah diisi air, tambak bocor sehingga tidak dapat dioperasikan.

Manfaat

pada tambak-tambak bertekstur lumpur, produktivitas tambak cenderung menurun setelah periode pemeliharaan tahun kedua. Hal ini terjadi karena penumpukan lumpur, sehingga diperlukan pekerjaan tambahan yang disebut dengan “keduk teplok” yaitu upaya membuang lapisan lumpur pada dasar tambak sebelum periode tanam dilakukan. Pada tambak pasir, produktivitas tambak cenderung konstan sampai dengan periode tanam ke-12. karena tumbuh pada lingkungan dasar tambak yang relatif lebih bersih.

Agar tambak mudah dikeringkan dan sisa pakan selama pemeliharaan dapat dibersihkan, maka dasar tambak dibuat miring ke tengah dengan tingkat kemiringan 1-2%. Selanjutnya di tengah dasar tambak dilengkapi dengan konstruksi pengeluaran air (central drainage). Central drainage terdiri dari bangunan tower, saringan air dan pipa pembuangan bawah tanah terbuat dari pipa PVC 12″.

Selain konstruksi petakan tambak, perlu pula diperhatikan konstruksi saluran pemasukan air (inlet) dan konstruksi pembuangan air (outlet). Saluran pemasukan air dibuat di atas pematang tambak yang menghubungkan sumber air sungai (yang dipompakan ke saluran) dengan petakan tambak. Konstruksi saluran air tersebut terbuat dari pasangan bata merah selebar 0,5 m dan tinggi 0,5 m, yang bagian dasarnya diperkuat dengan fondasi batu kali. Saluran pembuangan dibuat di bawah tanah dan lebih rendah dari dasar tambak, terbuat dari buis beton yang menampung air pembuangan yang berasal daricentral drainage.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, A. (1990). Beberapa konsepsi alokasi sumberdaya alam untuk penentuan kebijaksanaan ke arah pembangunan yang berkelanjutan. Makalah disampaikan pada Seminar Ilmu Tanah Indonesia. Tanggal 9-10 Oktober 1990. Ujung Pandang.

Anwar, A. (1994).  Masalah pembangunan di kawasan perkotaan. Mata Ajaran Sistem Ekonomi Perkotaan dan Pembangunan Regional, Jurusan PWD Program Pascasarjana IPB, Februari 1994.

Nasoetion, L.I. (1982). Analisis lokasi. Diktat Bahan Kuliah Jurusan Pengembangan Wilayah dan Pedesaan (PWD), IPB, Bogor.

Nasoetion, L.I. dan Wagner, M. (1985). Struktur tata ruang wilayah yang memusat: Penyebab dan pengaruhnya pada daerah belakang. Studi Kasus Kodya Tebing Tinggi Sumatera Utara. Tesis. Bogor: Fakultas Pascasarjana, IPB.

Nasoetion, L.I. dan Rustandi, E. (1990). Masalah konversi lahan sawah ke penggunaan non sawah fokus Jawa-Bali. Makalah Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah “Pembangunan Pedesaan dan Masalah Pertanian” Tanggal 13 – 15 Februari 1990. Yogyakarta: PAU Studi Sosial – UGM.

Pakpahan, A. dan Anwar, A. (1989). Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah. Jurnal Agro Ekonomi Vol. 8 No. 1, Mei 1989. Bogor: Pusat Penelitian Agro Ekonomi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Pierce, D.W. and Turner, R.K. (1990). Economics at natural resource and the enviroment. New York, London, Toronto, Sidney, Tokyo: Harvesten Wheatbeaf.

Pindyck, R.S. and Rubinfeld, D.C. (1991). Econometric Models And Economics Forecast. Third Edition. New York: McGraw-Hill.

Richardson, H.W. (1977). Dasar-dasar ilmu ekonomi regional. Terjemahan Program Perencanaan Nasional. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sandy, J.M. (1989). Esensi pembangunan wilayah dan penggunaan tanah berencana. Jakarta: Penerbit Geo-MIPA, Universitas Indonesia.

Winoto, J. (1995). Kriteria proyek-proyek dan program-program pembangunan yang seharusnya diprioritaskan pendanaannya dalam pembangunan nasional. Bogor: Bahan Kuliah Studi PWD Pascasarjana IPB.

Winoto, J. (1996). Transformasi struktur perekonomian dan ketenagakerjaan nasional: Tinjauan teoritis dan aplikasinya terhadap transformasi perekonomian dan ketenagakerjaan nasional yang telah terjadi dan proyeksinya sampai akhir PJP II. Bogor: Program Studi PWD Pascasarjana IPB.

www.google.co.id


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.